Sejarah Desa

Setiap desa atau daerah pasti memiliki suatu latar belakang atau budaya khas tersendiri. Kebiasaan-kebiasaan dalam suatu daerah biasanya menjadi tradisi yang harus dilakukan secara rutin, selain itu tiap daerah biasanya juga mempunyai peninggalan-peninggalan dari leluhur yang selalu dijaga kelestariannya. Tradisi dan peninggalan di Desa Sukoreno antara lain :

  • Baritan

Tradisi Baritan dilakukan di Bulak Kayangan, yaitu hamparan sawah seluas kira-kira 200 hektar yang letaknya dibatasi oleh :

– Sebelah utara : Dusun Semen Sukoreno

– Sebelah selatan : Dusun Gowangsan Desa Srikayangan

– Sebelah barat  : Dusun Sukoponco Sukoreno

– Sebelah timur : Dusun Gunung Duk Desa Tuksono

Di tengah-tengah  Bulak Kayangan ini tumbuh pohon klepu, asam dan mangga. Di bawah pepohonan ini terdapat sumur alami / mata air yang tidak pernah kering walaupun musim kemarau. Disebelah utara sumur/mata air ini terdapat plataran / tanah datar / tegal yang dianggap angker/wingit sehingga hanya ditumbuhi rumput karena tidak ada yang berani menggarapnya sebagai lahan pertanian.

Diatas lahan seluas kira-kira 1000 m ini, tiap bulan Ruwah selalu digunakan untuk kenduri atau biasa disebut BARITAN oleh warga masyarakat sekitar, terutama warga dusun Banggan, Depok dan Semen . Acara ini dihadiri oleh sekitar 150 orang yang membawa weton/tradisi uborampe kenduri yang dilaksanakan pukul 14.00 – 16.00 WIB. Acara ini dipimpin oleh bapak Kaum Rois,dimulai dengan membaca tahlil dan dilanjutkan dengan berdoa kepada Allah SWT memohon supaya tanaman pertanian bebas dari hama dan penyakit serta dapat panen dengan baik.

  • Makam Basudewo

Makam ini terletak di dusun Depok, tepatnya di sebelah barat Masjid At-Taqwa. Sejak kapan keberadaan makam tersebut para sesepuh Depok tidak mengetahui secara pasti namun diperkirakan ada sejak abad 19, dan kemungkinan merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Peninggalan tersebut berbentuk cungkup yang di dalamnya terdapat 3 buah kijing yang sudah dimakan rayap.  Kijing tersebut adalah milik :

  1. Kyai Basudewo terletak paling barat
  2. Kyai Basunondo terletak di tengah
  3. Kyai Pantes terletak paling timur

Bangunan keseluruhan berukuran 6 x 4 m dibatasi dengan batu putih yang tertata rapi, cungkup terbuat dari alang-alang tiangnya dari kayu berukuran 4 x 3 x 2 m, dan di depan makam tersebut terdapat sumur/belik.

Sekitar tahun 2002 cungkup tersebut di pugar oleh masyarakat sekitar dengan cara bergotong royong. Kijing kayu diganti dengan batu bata karena telah rusak dimakan rayap.

  • Sejarah Pemerintah Desa Sukoreno

Desa Sukoreno merupakan gabungan dari beberapa kalurahan yaitu ;

Kalurahan Kalimenur

Lurahnya yaitu Mangun Sukarto, cariknya Saparjan

Dengan wilayahnya yaitu :

  1. Dusun Sidowayah
  2. Dusun Ngaglik
  3. Dusun Kalimenur
  4. Dusun Sukoponco

Kalurahan Worawari

Lurahnya yaitu Sastro Praworo, cariknya Pringgosuwarno

Dengan wilayahnya yaitu :

  1. Dusun Mertan
  2. Dusun Worawari
  3. Dusun Blimbing
  4. Dusun Banggan
  5. Dusun Depok
  6. Dusun Semen

Kalurahan Suren

Lurahnya yaitu Sastrodiharjo, cariknya Harjodiwiryo

Dengan wilayahnya yaitu :

  1. Dusun Banjaran
  2. Dusun Suren
  3. Dusun Gembongan

Ketiga kalurahan itu kemudian digabung menjadi satu sejak tanggal 14 Januari 1947.

Sesudah digabung menjadi satu yang menjabat sebagai Lurah Sukoreno  yaitu :

  1. Sastropraworo ( 1947 – 1950 )
  2. Syamsudin ( 1950 – 1952 )
  3. Joyo Martono ( 1952 – 1992 )
  4. S.Sastrodiatmadja ( 1993 – 2002 )
  5. Ny. S.Sastrodiatmadja   ( 2002-sekarang )