RAYUAN S35

SUKORENO ( 18/11/17) – Desa Sukoreno terdiri dari 13 Dusun dan ada beberapa dusun yang terpisahkan oleh jalan raya serta jalur kereta. Salah satu dusun bahkan ditengah-tengahnya dilintasi oleh jalur kereta. Di Desa Sukoreno juga terdapat sebuah Stasiun kereta yang bernama Stasiun Kalimenur. Meski kini kondisi stasiun itu sudah tidak digunakan dan tidak terawat lagi.

Stasiun Kalimenur

Stasiun itu terletak di tepi rel ganda yang membelah wilayah Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo,Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, sekitar 15 kilometer barat Kota Yogyakarta.

Tidak hanya kondisi bangunan yang mengenaskan, lingkungan di sekitarnya pun seolah luput dari perhatian. Stasiun seluas kira-kira 40 meter persegi itu penuh tertutup sampah dan belukar. Menurut Bambang Sumitro (71), seorang warga sekitar, Stasiun Kalimenur memang sudah 35 tahun tak berfungsi. Alasannya, tidak ada lagi kereta yang berhenti di sana.

Sebelumnya, stasiun ini selalu ramai. Setiap hari, kereta uap jurusan Yogyakarta-Kutoarjo dan sebaliknya selalu singgah di Kalimenur. “Masyarakat menyebut kereta itu sepur bumel atau sepur grenjeng,” ujar Bambang yang mantan petugas kereta api ini.

Sepur bumel atau kereta uap ekonomi hanyalah secuil nostalgia dari Stasiun Kalimenur. Stasiun ini diperkirakan dibangun antara 1876-1888, atau bersamaan dengan pembangunan rel lintas selatan Cilacap-Surabaya oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Hingga masa perang kemerdekaan, stasiun ini merupakan salah satu pusat pemberangkatan penumpang utama di Kulon Progo, selain Stasiun Wates, Sentolo, Pakualaman, dan Kedundang.

Moda angkutan darat lain, seperti bus dan truk, kala itu masih langka. Dulu, Stasiun Kalimenur juga kondang dengan sebutan stasiun tahu. Sebab, mayoritas penumpang sepur bumel adalah para perajin tahu dari Tuksono, Sentolo, yang hendak berjualan ke Yogyakarta atau Purworejo. Bahkan, tahu juga dijajakan di sekitar stasiun, baik dalam bentuk mentah atau digoreng matang. Selain pedagang tahu, stasiun juga dipadati pedagang sayur, ternak, dan beras. Pelajar-pelajar Kulon Progo juga memanfaatkan kereta untuk pergi sekolah ke Yogyakarta.

Namun, tragedi memilukan justru menimpa Stasiun Kalimenur di puncak kejayaannya. Akhir 1948, ketika stasiun ramai penumpang, tentara Belanda menghujaninya dengan bom. Kerusakan paling parah justru terjadi di rumah dinas wakil kepala stasiun yang rata dengan tanah. “Rumah kepala stasiun dan stasiun masih bisa diselamatkan,” ujar Bambang yang kini tinggal di rumah bekas kepala Stasiun Kalimenur.

Beberapa tahun kemudian, PT Kereta Api (ketika itu bernama Perusahaan Negara Kereta Api/PNKA) merestorasi stasiun tersebut. Sekitar 1954, fungsi stasiun diturunkan menjadi stoplat (stasiun mini) yang merupakan lokasi pemberhentian sementara kereta, dan tidak lagi melayani penjualan tiket penumpang. Kala itu, kondisi jalur Kutoarjo-Solo baru didukung satu rel, sehingga harus ada kereta yang mengalah apabila berpapasan dengan kereta lain. Stasiun Kalimenur akhirnya berhenti beroperasi tahun 1974. Kondisi stasiun di daerah tikungan rel membuatnya tak layak lagi menjadi tempat pemberhentian kereta berkecepatan tinggi, di atas 80 kilometer per jam.

Aktivitas di sekitar stasiun ikut lumpuh. Menurut Bambang, sekitar awal dekade 1980-an, stasiun ini masih kerap disinggahi warga yang ingin berekreasi. Biasanya, menjelang sore banyak keluarga membawa anak-anak mereka di tepi stasiun untuk melihat kereta-kereta yang melintas. “Mungkin mereka masih kangen naik sepur bumel. He, he, he,” ujar Bambang terkekeh seraya memperlihatkan giginya yang ompong. Makin lama, jumlah pengunjung bekas Stasiun Kalimenur terus berkurang. Kondisi bangunan yang tidak terawat membuat mereka enggan menginjakkan kaki di sana. Kalimenur pun terlantar.

Selain dari Stasiun Kalimenur ada satu hal yang menarik dari jalur kereta yang membelah Desa Sukoreno,yaitu pada jalur S35. Disana terdapat tikungan jalur kereta yang sangat menawan karena setiap ada kereta yang melewati jalur tersebut bagaikan tubuh ular yang menggeliat. Tempat ini bahkan menjadi tempat favorit bagi pecinta fotografi kereta. Bahkan hampir setiap hari bisa dijumpai para pecinta fotografi kereta.

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan